Saya kembali ke kampung halaman saya yaitu JAKARTA!suatu kota dengan bangunan tinggi menjulang dan aktivitas warganya yang di kenal tidak pernah tidur. Sebuah kota tempat tujuan orang mengadu nasib untuk mendapatkan kehidupan yang baik. Saya ibarat orang yang penasaran dan sangat ingin melihat perkembangan ibukota tercinta. Sesekali melirik sebuah 'keunikan' kota ini, membuat saya bertanya-tanya seperti apa Jakarta sekarang.
Sebelum turun kereta saja saya di kejutkan oleh pembangunan koridor Transjakarta di daerah jatinegara. Terlihat pembangunan halte bus hingga jalan separatornya. Kota jakarta akan tumbuh dengan transportasi massalnya itu harapan yang terbesit dalam pikiran saya, sehingga ketergantungan terhadap mobil pribadi yang membelenggu kota ini sedikit demi sedikit akan terlepas. Merupakan suatu kemajuan memang jika kita melihat itu tapi apakah realitanya akan sama dengan harapan?sebuah tanda tanya besar. Turun dari kereta dan keluar dari stasiun, saya di temani oleh rintik hujan. Hari memang masih subuh terlihat dengan banyaknya orang sholat subuh di mushola. Walaupun masih pagi aktivitas orang-orang terlihat ramai sekali. Seperti tidak ada batasan waktu orang-orang ini beraktivitas. Hal ini membuat saya membandingkan dengan kota perantauan saya menimba ilmu, berbeda sekali itu kata-kata yang saya ucapkan. selanjutnya saya menaiki bis,angkutan yang memang 'panggung' bagi yang namanya Seniman jalanan. Memang unik seniman jalanan ini, jika saya lihat penampilannya hampir sama dengan saya. Celana jeans, kaos oblong dan rambut gondrong, hal ini membuat saya tersenyum. Apa yang akan dikatakan teman-teman saya di sana jika melihat hal ini, pasti akan tertawa terbahak-bahak. Tapi inilah jakarta, kota dimana saya dilahirkan dan di besarkan. Apapun bentuknya pasti membuat saya kangen untuk menyusuri lika-liku nya. Sebuah pepatah bilang ibukota lebih jahat daripada ibu tiri. Mungkin ada benarnya dari kata-kata tersebut. Melewati sudut ibukota yang banyak sekali perbedaan kita lihat, dari kawasan pusat sampai di pinggiran. teori dan realita berbanding terbalik. Mungkin baru kesan pertama yang saya dapatkan dari kota yang sudah lama saya tinggalkan. Ibukota saya datang!
Sebelum turun kereta saja saya di kejutkan oleh pembangunan koridor Transjakarta di daerah jatinegara. Terlihat pembangunan halte bus hingga jalan separatornya. Kota jakarta akan tumbuh dengan transportasi massalnya itu harapan yang terbesit dalam pikiran saya, sehingga ketergantungan terhadap mobil pribadi yang membelenggu kota ini sedikit demi sedikit akan terlepas. Merupakan suatu kemajuan memang jika kita melihat itu tapi apakah realitanya akan sama dengan harapan?sebuah tanda tanya besar. Turun dari kereta dan keluar dari stasiun, saya di temani oleh rintik hujan. Hari memang masih subuh terlihat dengan banyaknya orang sholat subuh di mushola. Walaupun masih pagi aktivitas orang-orang terlihat ramai sekali. Seperti tidak ada batasan waktu orang-orang ini beraktivitas. Hal ini membuat saya membandingkan dengan kota perantauan saya menimba ilmu, berbeda sekali itu kata-kata yang saya ucapkan. selanjutnya saya menaiki bis,angkutan yang memang 'panggung' bagi yang namanya Seniman jalanan. Memang unik seniman jalanan ini, jika saya lihat penampilannya hampir sama dengan saya. Celana jeans, kaos oblong dan rambut gondrong, hal ini membuat saya tersenyum. Apa yang akan dikatakan teman-teman saya di sana jika melihat hal ini, pasti akan tertawa terbahak-bahak. Tapi inilah jakarta, kota dimana saya dilahirkan dan di besarkan. Apapun bentuknya pasti membuat saya kangen untuk menyusuri lika-liku nya. Sebuah pepatah bilang ibukota lebih jahat daripada ibu tiri. Mungkin ada benarnya dari kata-kata tersebut. Melewati sudut ibukota yang banyak sekali perbedaan kita lihat, dari kawasan pusat sampai di pinggiran. teori dan realita berbanding terbalik. Mungkin baru kesan pertama yang saya dapatkan dari kota yang sudah lama saya tinggalkan. Ibukota saya datang!
0 komentar:
Posting Komentar